Syekh Nurjati

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Syekh Nurjati adalah tokoh perintis penyebar agama Islam di Jawa Barat. Syekh Nurjati atau disebut juga Syekh Datul Kahfi atau Syekh Datuk Kaffi menyebarkan Islam di pesisir utara Jawa Barat mulai sekira tahun 1420 M. Cerita tentang Syekh Nurjati dijumpai dalam banyak naskah seperti Purwaka Caruban Nagari, Carub Kanda, Babad Cirebon, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan, dan Naskah Pulasaren.

Dalam naskah Purwaka Caruban Nagari (1720) karya Pangeran Arya Carbon yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H.A. Dasuki (1978) dan Atja (1986), disebutkan bahwa Syekh Nurjati adalah seorang ulama dari Mekah yang tinggal di bukit Amparan Jati. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Gunung Jati yang berada di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Disebutkan di dalam naskah tersebut bahwa Syekh Nurjati adalah guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rarasantang, kakak-adik putra Prabu Siliwangi dari ibu bermana Subang Larang, putri juru labuhan Ki Gedeng Tapa. Subang Larang dipersunting Prabu Siliwangi saat dia sedang belajar di Pesantren Syekh Quro, Karawang. Pernikahan ini disebutkan terjadi pada tahun 1422 M.

Syekh Nurjati sendiri datang belakangan setelah armada Cheng Ho yang membawa Syekh Quro, utusan dari Campa, itu mendarat di pelabuhan Muara Jati.

Setelah tiga tahun berguru, oleh Syekh Nurjati, kakak-adik putra Prabu Siliwangi itu diperintahkan untuk membuat pedukuhan baru di Kebon Pesisir, Lemahwungkuk. Pedukuhan baru itu kemudian semakin ramai dan kemudian dinamakan Caruban.

Syekh Nurjati juga menjadi sosok penting karena sebagai guru, dia memerintahkan Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rarasantang untuk pergi haji. Selain berhaji, di Mekah mereka berdua belajar Islam kepada Syekh Abdulyazid.

Nyai Rarasantang yang akhirnya menikah dengan penguasa Mesir, Sultan Mahmud, akhirnya memiliki seorang putra yang bernama Syarif Hidayatullah. Naskah ini mengatakan bahwa Syarif Hidayatullah lahir pada 1448 M.

Syarif Hidayatullah kemudian saat menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Dengan begitu, Syekh Nurjati merupakan guru agama Islam yang utama bagi para perintis penyebar agama Islam di Jawa Barat, bersama Syekh Quro di Karawang.

Sumber lain mengatakan, Syekh Nurjati lahir di Malaka yang pergi ke Mekah untuk berhaji dan menuntut ilmu. Dia menemukan jodohnya, Syarifah Halimah, saat berada di kota Baghdad. Ayahnya bernama Syekh Datuk Ahmad.

Syekh Nurjati mempunyai dua adik bernama Syekh Bayanullah yang bermukim di Mekah dan adik perempuan yang disebutkan menikah dengan Raja Upih Malaka. Syekh Nurjati mendarat di pelabuhan Muara Jati sekira tahun 1420 M bersama rombongan dari Baghdad yang terdiri dari sepuluh orang pria dan dua orang perempuan.

Setelah Syekh Nurjati, rombongan yang berasal dari Baghdad berikutnya kembali mendarat di Muara Jati saat adik Syekh Nurjati, Syekh Bayanullah tiba bersama Syekh Bentong, putra Syekh Quro. Syekh Bayanullah mendirikan Pesantren Quro di Desa Sidapurna, Kuningan.

Beberapa tahun setelahnya, rombongan dari Baghdad yang lebih besar, sekitar 1.200 orang datang kembali ke Muara Jati. Mereka dipimpin oleh keluarga dekat kerajaan Baghdad, Syarif Abdurrakhman, Syarif Abdurrakhim, Syarifah Baghdad dan Syarif Khafid. Oleh Pangeran Walangsungsang mereka diberikan izin untuk tinggal di daerah Panjunan.

Syarif Abdurrakhman kemudian dikenal dengan sebutan Pangeran Panjunan. Di daerah tersebut, Pangeran Panjunan dan rombongannya membangun sebuah masjid yang kemudian disebut Masjid Merah Panjunan. Para penyebar Islam pertama inilah yang namanya disebut-sebut dalam tradisi tawasul setiap kali umat Islam di Cirebon memanjatkan doa.

Syekh Nurjati juga menjadi sosok penting yang memberikan nasihat kepada Syarif Hidayatullah saat pertama kali datang ke Cirebon. Nasihat tersebut kurang lebih berbunyi bahwa sebelum menyebarkan agama Islam, Syarif Hidayatullah hendaknya tak gegabah dalam menghadapi orang-orang beragama Buddha (agama terdahulu).

Syarif Hidayatullah dinasihati untuk belajar dulu kepada Sunan Ampel di Surabaya karena menurutnya yang bisa memahami karakter masyarakat dan kerajaan di Jawa saat itu adalah Sunan Ampel dan Syekh Quro.

Syekh Nurjati juga menekankan kepada Syarif Hidayatullah untuk mengedepankan adat setempat yakni dengan saling menghargai dan menghormati setiap orang, baik yang lebih tua maupun yang muda.

Syarif Hidayatullah pada akhirnya menggantikan posisi Syekh Nurjati, setelah wafatnya, sebagai guru di Amparan Jati dengan gelar Syekh Maulana Jati atau Syekh Jati. Orang-orang kemudian mengenalnya dengan nama Sunan Gunung Jati.

Syekh Nurjati wafat dan dimakamkan di bukit Amparan Jati atau Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Makamnya berada di seberang sebelah jalan raya sebelah timur kompleks Makam Sunan Gunung Jati yang berada di Gunung Sembung.

Makam Syekh Nurjati dikelilingi tembok putih berbentuk persegi. Tembok berhias keramik tersebut memiliki satu pintu yang menghadap ke Barat. Di atas pintu tersebut tertulis kalimat dalam bahasa Arab ‘laa ilaha illa Allah Muhammad rosulullah’. Di sisi kanan dan kiri pintu terbentang dekorasi berbentuk relief mirip sayap.

Di sekitar makam Syekh Nurjati terdapat dua sumur tua yakni sumur Jalatunda dan sumur Tegangpati. Di kompleks makam ini juga terdapat makam tokoh penting Cirebon seperti makam Syekh Siti Jenar, Ki Gedeng Jati, Penghulu Karawang, Pangeran Jaya Sampurna, Ki Jaka Tawa, Dewi Rara Panas, Syekh Tolhah, makam bala tentara putri Ong Tin dan makam Letjen (Purn) Ismail Saleh. Di tempat itu juga terdapat petilasan Walisanga (sembilan buah makam), Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.[]

Berita sebelumyaKontroversi Naskah Wangsakerta
Berita berikutnyaSega Jamblang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya