Rastika: Maestro Lukis Kaca Cirebon, Pioner Motif Wayang Adegan

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Dari sekian banyak maestro seniman lukis kaca Cirebon, ada salah satu nama yang tidak boleh dilupakan: Rastika. Namanya dikenal luas di berbagai kalangan, bahkan beberapa penghargaan bergengsi pun pernah diraihnya.

Rastika lahir di Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon pada 1 Juli 1942. Beliau mendapatkan penghargaan Bentara Budaya pada 26 September 2012 karena dianggap memiliki totalitas berkarya di bidang seni tradisi.

Namanya mulai dikenal berkat dorongan semangat dari Joop Ave (Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi 1993-1998) dan Hariadi Suadi, dosen seni rupa ITB. Joop ‘mengenalkan’ Rastika dan lukis kaca Cirebon ke panggung yang lebih luas. Salah satu karya Rastika adalah Citra Indonesia yang dipajang di anjungan TMII. Lukisan berukuran raksasa itu adalah pesanan Joop.

Pada 1972, Rastika bertemu Hariadi Suadi. Hariadi pun memesan lukisan kaca kepada Rastika. Hariadi terkesan dan pada 1977 Rastika diajaknya untuk pameran di ITB. Di pameran itulah, Rastika pertama kali bertemu Joop Ave. Sejak itu, Rastika ikut dalam pameran demi pameran.

Menurut salah seorang murid Rastika, Achmad Opan Safari, pada waktu itu Hariadi Suadi hendak memesan lukisan kepada Ki Dalang Sudarga (Ki Lesek) dan Elang Aruna Martaningrat. Dua pelukis kaca Cirebon yang karyanya lebih dulu dikenal. Tapi kebetulan Ki Lesek maupun Aruna tidak menyimpan stok lukisan. Mungkin karena lukisan mereka berdua selalu laku. Akhirnya Hariadi memesan lukisan kepada Rastika yang mempunyai banyak stok.

Lama-kelamaan nama Rastika pun semakin dikenal banyak orang. Puncaknya pada 1980-an, lukisan kaca karya Rastika kebanjiran pesanan dari “orang-orang besar”.

Wartawan Kompas, Rini Kustiasih menyebut saat itu banyak pemesan lukisan kaca karya Rastika adalah para pejabat zaman Orde Baru dan turis asing. Rini memperkirakan ada sekitar 120 lukisan karya Rastika yang dikoleksi para pejabat seperti Menteri Penerangan Boediarjo, Wakil Presiden Tri Sutrisno dan tentu saja Menteri Periwisata, Pos dan Telekomunikasi zaman Orde Baru, Joop Ave.

Rastika belajar melukis sejak usia 10 tahun. Secara otodidak, Rastika mulai belajar menggambar motif batik Cirebon yang menyertai seorang tokoh wayang. Tahun 1960-an, ketika berusia belasan tahun, Rastika mulai melukis di atas kertas.

Lalu ketika dia melihat para pelukis kaca senior di Gegesik melukis di atas kaca, secara diam-diam Rastika mencobanya di rumah, lalu ia tunjukan kepada Ki Lesek. Ki Lesek terkesan. Dari situlah Rastika mulai menekuni melukis di atas kaca. Pembeli lukisan pertamanya adalah Sukirno, tetangganya sendiri.

Bakat Rastika tak bisa dilepaskan dari desa tempat tinggalnya, Gegesik. Gegesik disebut sebagai daerah seniman Cirebon, tempat di mana banyak lahir seniman tradisi Cirebon, terutama dalang wayang kulit. Wayang kulit Cirebon memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan wayang kulit Jawa, Sunda maupun daerah lainnya. Karakter inilah yang dijiwai Rastika sejak kecil.

Sebagai seorang yang sehari-hari bergelut dengan wayang, anak dari pasangan Tarsa dan Rubiyem itu belajar banyak hal tentang seni bayangan tersebut. Keahliannya melukis kaca pun berawal dari belajar mengakrabi bentuk, karakter dan filosofi wayang Cirebon.

Dia belajar itu dari Ki Maruna, Ki Saji, dan Ki Siti Siwan. Ketiganya adalah dalang wayang kulit di Gegesik. Rastika juga belajar lukisan kaca dari Ki Lesek dan Elang Aruna Martaningrat. Hasilnya, lukisan kaca karya Rastika mempunyai karakter tersendiri yang berbeda dengan lukisan lainnya.

Rastika banyak menggambar wayang Cirebon sebagai sebuah adegan. Sebelumnya, lukisan kaca Cirebon masih setia pada gambar monoton seperti wayang ijen (satu sosok wayang), wayang sejodo atau wayang sepasang, wayang sekeluarga, dan sebagainya. Berbeda, Rastika memulai sebuah gaya baru melukis sebuah adegan yang diadaptasi dari adegan dalam pagelaran wayang kulit.

Menurut Opan Safari, gambar adegan tersebut Rastika dapatkan dari gambar ilustrasi dalam sebuah naskah kuno Brahmakawi Perangjaya. Naskah inilah yang menjadi rujukan banyak dalang di Gegesik.

Lukisan Rastika seperti Jejer Amarta, Karna Tandhing, dan Aji Candrabirawa adalah beberapa contoh adegan sebagaimana yang ada di dalam naskah babon tersebut.

Rastika dikenal sebagai inovator karena dia yang memulai lukisan kaca adegan. Tapi di sisi lain, Rastika juga dikenal sebagai orang yang keras mempertahankan pakem Cirebon dalam lukisannya. Kalaupun ada kreativitas, Rastika tidak melakukannya secara ekstrem seperti saat dia melukis wayang yang sedang duduk. Karena di dalam pagelaran wayang maupun di naskah tidak ada wayang duduk.

Hal ini berbeda misalnya dengan beberapa pelukis pada zamannya yang mempertontonkan darah dan kepala yang terpenggal pada lukisan tentang perang Bharatayuddha.

Keteguhannya pada pakem Cirebon tidak serta merta membuat Rastika kaku. Dalam penelusuran Rini Kustiasih, pada masa mudanya bahkan Rastika pernah membuat lukisan kaca ‘mbeling’.

Rastika pernah membuat lukisan Sepayung Berdua yang menggambarkan petruk jalan-jalan dengan istrinya dengan memakai payung. Lukisan ini ia jual ke Ibu Runti, pemilik warung sop “Mimi Runti” di Jalan Cangkringan, Sliyeg. Bayarannya, makan gratis sop dan pedesan entok. Sampai sekarang lukisan tersebut menjadi ciri khas warung sop “Mimi Runti”.

Inovasi lainnya yang dilakukan Rastika adalah lukisan kaca buatannya berukuran besar. Untuk mempermudah proses pelukisan, Rastika membuat sendiri meja lukis yang dinamis sehingga kaca berukuran besar bisa berada dalam posisi terbentang maupun berdiri. Hal ini memudahkannya dalam bekerja.

Teknik lukisnya juga tak kalah inovatif. Rastika banyak melakukan eksperimen dengan menggunakan koas yang dibuatnya sendiri dari bulu domba dan bulu kucing. Beberapa karya monumentalnya adalah Karna Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci, Kumbakarna Gugur, Citra Indonesia, Perang Baratayuda, Gatot Kaca, dan sebagainya.

Selain sebagai pelukis kaca, Rastika juga ahli membuat wayang kulit dan seorang penabuh gamelan. Sekitar 200 wayang karya Rastika yang menjadi koleksi Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pernah dipamerkan di Bandung pada 2015. Wayang-wayang tersebut dibeli pemilik studio pada tahun 2014 dari keluarga Rastika.

Rastika mempunyai istri bernama Karmi dan dikaruniai lima orang anak: Rumsina, Rusmadi, Rusasmo, Kusdono, dan Kustori. Anak keempatnya, Kusdono sampai sekarang masih aktif melukis, meneruskan apa yang sudah dilakukan ayahnya.

Rastika meninggal dunia pada 26 Agustus 2014 dan dimakamkan di TPU Buyut Ki Luwi Desa Gegesik Kulon, berdekatan dengan makam istri dan kedua orang tuanya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya