Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya kopi, teh, dan tebu.

Hasil tanaman ini harus dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah ditentukan. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah Kolonial yang menjadi semacam pajak.

Kebijakan ini diambil setelah Hindia Belanda hampir bangkrut mengongkosi Perang Jawa (1852-1830). Pada masa itu di Cirebon juga banyak bermunculan kebon tebu. Pengusaha tebu dari Eropa pun semakin banyak bermunculan memanfaatkan situasi ini.

Salah seorang pengusaha itu adalah Louis Theodore Gonzalves. Seorang pengusaha gula tebu berdarah Portugis yang dilahirkan di Batavia pada 1828. Ayahnya, Joseph Maria Gonzalves pernah menjadi agen konsular Prancis sebelum akhirnya menjadi pengusaha gula tebu dan mendirikan banyak pabrik gula di antaranya di Gebang, Cirebon (1838), Losari, Cirebon (1838), dan Tersana, Indramayu (1841-1854).

Pada waktu itu (1830-1870) tak kurang dari 10 pabrik gula telah berdiri di wilayah Keresidenan Cirebon. Louis Theodore Gonzalves meneruskan usaha Joseph. Salah satu kesuksesan Louis yang melebihi kesuksesan ayahnya adalah saat dia berhasil mengembangkan jenis tebu baru yang legendaris pada 1857. Tebu itu disebut “teboe Tjirebon itam”. Hasilnya, produksi gula meningkat dua kali lipat. Pada masa suksesnya ini, Louis membangun gereja Santo Yusuf Cirebon. Nama gereja itu kemungkinan besar adalah penghormatan kepada ayahnya, Joseph Maria Gonzalves.

Setelah kesuksesan ini, seluruh kebun tebu di penjuru Jawa akhirnya ramai-ramai menanam “teboe Tjirebon itam”. Ia menjadi tebu legendaris di masa itu. Orang Jawa Timur mengenal “teboe Tjirebon itam” dengan sebutan “tebu manggis” karena memang warna batangnya mirip warna kulit manggis, hitam kemerah-merahan.

Tebu legendaris ini juga yang mungkin sekali menginspirasi penamaan daerah Tebuireng di Jawa Timur. Yang konon awalnya masyarakat menyebut daerah itu dengan sebutan “kebo ireng”.

Tapi kejayaan “teboe Tjirebon itam” yang legendaris ini tak berlangsung lama. Virus menyerangnya dan membuat pertumbuhannya terganggu. Penyakit ini disebut orang dengan “penyakit sereh”. Tebu yang terkena penyakit dari virus ini tidak bisa tumbuh besar. Tebu menjadi kecil seperti tanaman serai (sereh). Dan “teboe Tjirebon itam” sangat peka terhadap penyakit ini.

Hindia Belanda kemudian menemukan tebu legendaris pengganti “teboe Tjirebon itam” yang disebut POJ 2878 yang kemudian dikenal sebagai wondercane from Java (tebu ajaib dari Jawa). Tebu yang kebal terhadap “penyakit sereh”.

Sejak saat itu, “teboe Tjirebon itam” sudah tidak ditanam lagi di perkebunan tebu. Setelah Belanda hengkang dan pasar gula terus melemah, perkebunan tebu pun mulai mengalami kemunduran. “Teboe Tjirebon itam” yang pernah mencapai masa jayanya itu sudah tidak ditanam lagi hingga hari ini.

Tapi jejak-jejaknya masih terlihat. Di kampungku misalnya, “teboe Tjirebon itam” masih bisa ditemukan dan tumbuh dengan normal. Mungkin tebu ini dibawa oleh para pekerja perkebunan untuk ditanam di pekarangannya sendiri.

Tangga “mudun lema” yang terbuat dari “teboe Tjirebon itam”.

Ia sekarang menjadi tanaman liar yang tumbuh di pinggir-pinggir sungai, di tepian pekarangan rumah, dan sebagai pembatas “tak resmi” pada tanah-tanah milik masyarakat. Tebu ini juga lazim dipakai pada saat upacara “mudun lema” saat seorang bayi di Cirebon pertama kali diperbolehkan menginjakkan kakinya ke atas tanah. Tangga yang digunakan dalam prosesi upacara “mudun lema” terbuat dari tebu ireng.

Selain sebagai bahan untuk membuat tangga mudun lema, “teboe Tjirebon itam” masih dikonsumsi masyarakat dan dipercaya bisa menjadi obat batuk, obat kuat, dan obat pegal linu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya