Lukisan Kaca Cirebon: Motif Wayang dan Kaligrafi

Baca Juga

Kalau kita amati, karya-karya lukisan kaca Cirebon banyak mengambil dua tema motif, yakni tema wayang dan kaligrafi tasawuf (Islam). Dua tema motif ini seolah-olah menjadi ciri khas lukisan kaca Cirebon. Saya telusuri, ternyata dua tema motif ini terinspirasi dari ilustrasi dalam naskah.

Rastika, Toto, dan seniman Cirebon lainnya sering membuat lukisan Jejer Jaya Tandingan. Jejer Jaya Tandingan adalah pertempuran Senopati Hastinapura, Adipati Karna dan Senopati Pandawa, Arjuna. Judul lainnya yang juga populer adalah Jaya Lenggeran (Bhisma gugur), Jaya Sautan (Salya Gugur), Jaya Perbangsa (Gatotkaca gugur), dan Jaya Renyan (Abimanyu gugur).

Ketika Rastika diminta informasi darimana sumber inspirasinya? Maka Rastika memberi keterangan bahwa karya-karya dia bersumber dari naskah pakem Brahmakawi Perangjaya.

Naskah ini berisi tembang-tembang dalam bentuk suluk yang diberi penjelasan berupa ilustrasi gambar-gambar adegan dalam pertunjukkan wayang. Dalang H. Mansyur juga menjelaskan bahwa naskah Brahmakawi Perangjaya menjadi patokan dalang-dalang di Gegesik dalam melaksanakan lampahan Perangjaya.

Rastika yang juga memberikan keterangan ketika ditanya tentang sumber patokan lukisan kaca dengan tema kaligrafi Islam Tasawuf. Dia saat itu mengatakan, ”Baka gambar-gambar kien, kudu takone ning Elang, Cung. Mang Ras cuma bisa nggambare tapi bli ngerti ning artie.” (Kalau gambar-gambar ini harus tanya ke Elang, Nak. Paman Ras tidak mengerti, hanya bisa menggambarnya saja).

Elang adalah panggilan untuk bangsawan keturunan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Kemudian pada tahun 1988, penulis menelusuri siapa yang dimaksud Elang oleh Rastika. Ternyata Elang yang dimaksud Rastika adalah Pangeran Aruna Martaningrat dari Desa Kalisapu, Cirebon Utara.

Haryadi Suadi juga memberikan keterangan yang sama dalam Katalog Pameran Lukisan Kaca Cirebon. Pangeran Aruna Martaningrat, atau Mama Aruna panggilannya, adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan juga pelukis kaca. Karya-karyanya banyak diilhami oleh naskah Tarekat Syattariyah. Mama Aruna juga masih ada hubungan nasab/keturunan dari Keraton Keprabonan, Cirebon.

Naskah Brahmakawi Perangjaya

Sejak tahun 1990 hingga tahun 2016, saya meneliti Naskah Brahmakawi Perang Jaya (NBPJ). Selama itu, penulis akhirnya menemukan empat jenis NBPJ dari tempat yang berbeda-beda. Empat naskah tersebut adalah:

  1. Naskah Brahmakawi miliki Ki Dalang Teja. Naskahnya lengkap tetapi naskah aslinya tidak ditemukan. Penulis hanya menemukan kopinya saja.
  2. Naskah Brahmakawi Perang Jaya Ki Dalang Bahani. Naskahnya berbentuk salinan tahun 2007.
  3. Naskah Brahmakawi Perang Jaya milik Bahendi. Naskah ini hasil tulisan Ki Saji yang dibuat tahun 1900-an. Ditulis atas perintah Ki Dalang Sojat Boja Sasmita.
  4. Naskah Brahmakawi Perang Jaya milik Bahendi. Naskah ini kemungkinan besar ditulis oleh Ki Siti Siwan (1898-1946). Ditulis atas perintah Ki Dalang Konjem. Ki Siti Siwan adalah guru dari Ki Saji.

NBPJ menjadi pakem dari dalang-dalang Gegesik dalam melakonkan Perangjaya (Bharatayudda). NBPJ ditulis dan disalin berulang-ulang. NBPJ beredar di seluruh wilayah Gegesik. Dalang-dalang yang ada di Gegesik sekarang ini sebagian besar keturunan dari Ki Konjem. Ki Konjem adalah leluhur dan orang yang memerintahkan NBPJ ditulis.

Selain sebagai patokan dalang dalam melakonkan kisah Perangjaya, NBPJ juga menjadi sumber inspirasi dari pelukis kaca Rastika untuk menggambar di kaca. Hal-hal yang diambil dari NBPJ adalah sebagai berikut:

  1. Episode dan jejer (adegan) wayang dalam sebuah cerita.
  2. Posisi jejer wayang dalam sebuah cerita, misalnya posisi sais kereta, posisi pemanah, posisi kuda, perisai prajurit, dan senjata-senjata yang digunakan.
  3. Kawi-kawi yang dibacakan/ditulis dalam sebuah adegan.
  4. Jenis-jenis tokoh wayang, ukuran, dan posisinya dalam pertunjukkan.

Naskah Tarekat Syattariyah

Naskah Tarekat Syattariyah (NTS) di Cirebon banyak sekali jumlahnya. Begitu pula dengan nama-nama Rama Guru yang populer di Cirebon dan luar Cirebon. Sebut saja nama Syaikh Muhammad Shofiudin (Pangeran Jatmaningrat), Syaikh Abdullah bin Abdul Kohar, Pangeran Muhammad Arifudin Kusumabratawirdja, Pangeran Angkawijaya Muhammad Arullah Habibudin, dan Pangeran Brataningrat. Para mursyid ini banyak yang menulis atau menyalin NTS sendiri atau menyuruh murid kepercayaannya.

NTS memiliki tulisan dan iluminasi yang indah. Fungsi iluminasi itu untuk melayani apa-apa yang tidak disajikan oleh teks. Iluminasi juga memiliki fungsi untuk membuat tamsilan (analogi) pelajaran tauhid.

Selain berfungsi sebagai pelajaran, iluminasi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Mungkin itulah alasan yang membuat para mursyid membuat iluminasi tarekat ini ke dalam lukisan kaca atau ukir kayu.

Faizah Dasuki menemukan lukisan kaligrafi Macan Ali yang dibuat oleh Pangeran Brataningrat pada tahun 1979. Faizah Dasuki melakukan riset untuk kepentingan pembuatan Skripsi S1 di FSRD ITB. Kalau benar lukisan kaca itu dibuat Pangeran Brataningrat berarti usia lukisan itu cukup tua sekali. Sebab masa hidup Pangeran Brataningrat antara tahun 1766-1798 M.

Banyak sekali jumlah lukisan kaca dan ukiran kayu (tlawungan) yang bertemakan motif kaligrafi tasawuf ini. Semuanya memiliki judul dan orang-orang keraton banyak yang mengenal motif itu. Sebab keterkaitan antara motif dan ajaran tarekat yang ada dalam naskah masih kental sekali. Namun, nama-nama pembuat lukisan atau ukiran kayunya tidak ada yang tahu (anonim).

Menurut Pangeran Muhammad, tokoh mursyid yang juga dikenal sebagai seniman adalah Pangeran Kusumawaningyun dan Pangeran Brataningrat. Pangeran Kusumawaningyun adalah ayah dari Pangeran Brataningrat. Pendapat Pangeran Hilman didukung oleh manuskrip-manuskrip miliknya, manuskrip yang dibuat oleh Pangeran Kusumawaningyun dan Pangeran Brataningrat kebanyakan dihiasi iluminasi yang indah.

Motif kaligrafi tasawuf itu baru terkuak pelukisnya sekitar tahun 1976 ketika Haryadi Suadi sering berkunjung ke Cirebon. Salah satu pencipta motif kaligrafi tasawuf adalah Pangeran Aruna Martaningrat. Haryadi Suadi sempat menyaksikan karya-karya Mama Aruna tersebut. Karya-karyanya adalah Banteng Windu, Gajah Banteng, Sirah Sinunggal, Iwak Telu Sirah Sinunggal, Salira Muhammad, dan lain sebagainya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya