Jejak Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon

Baca Juga

Cirebon terkenal dengan karya seni lukisan kacanya. Lukisan kaca memiliki perjalanan yang cukup panjang. Sekitar tahun 1930-an, lukisan kaca sudah cukup populer, namun seniman penggarapnya tidak diketahui. Di Museum Cakrabuana ada lukisan pertamanan Kota Baghdad. Lukisan itu menurut pemiliknya sudah ada sejak zaman Jepang (± 1942).

Dr. Jerome Samuel dari La Rochel University pernah meneliti jenis-jenis lukisan ini. Dia tertarik dengan lukisan pertamanan Kota Baghdad. Keunikan lukisan ini adalah adanya background pegunungan di belakang objek pertamanan Kota Baghdad.

Padahal, di tempat aslinya tidak ada latar belakang pegunungan. Kemudian dia melakukan penelusuran ke berbagai tempat di Cirebon, namun tidak menemui titik terang. Baru setelah pulang dari Desa Gegesik Kulon menuju Arjawinangun mulai ada gambaran. Ketika berhenti di Stamplat Arjawinangun dan melihat ke arah selatan (Palimanan) terlihat pemandangan pegunungan kapur Palimanan.

Susunan pegunungan itu mirip sekali dengan latar belakang pegunungan yang ada di dalam lukisan pertamanan Kota Baghdad. Setelah itu, saya menelusuri kawasan Arjawinangun. Kemudian ditemukan keterangan dari K.H. Ahmad Saefudin yang pada tahun 2000 berumur 80 tahun. Beliau mengatakan bahwa pada sekitar tahun 1930 sampai dengan tahun 1950, di depan pasar Arjawinangun ada seorang pelukis kaca yang bernama H. Afandi.

H. Afandi banyak membuat lukisan kaca bertema pintu gerbang Istambul, pertamanan Kota Baghdad, Burok, Masjid Demak, Mekah al-Mukarromah, Madinah al-Munawwaroh, dan Kaligrafi. Benar tidaknya lukisan itu dibuat di Arjawinangun sangat sulit dibuktikan. Tetapi benang merahnya telah tersambung. Gugusan pegunungan kapur itu dapat terlihat dengan jelas dari arah pasar Arjawinangun.

Pada tahun 1976, Haryadi Suadi, seorang dosen jurusan grafis FSRD ITB melakukan penelusuran di Desa Gegesik Kulon. Haryadi Suadi ingin menjajaki Ki Dalang Sudarga (Ki Lesek) untuk ikut pameran di Galeri Sumardja ITB. Ki Sudarga menolak, sebab dia tidak memiliki koleksi lukisan yang cukup. Kemudian Ki Sudarga menyarankan Haryadi untuk menemui Rastika, pelukis kaca produktif waktu itu.

Rastika memang memiliki koleksi yang sangat banyak pada saat itu. Rastika masih belum terkenal kala itu. Kebanyakan lukisan kaca Rastika bertemakan wayang, serabad, dan kaligrafi Islam. Namun karya Rastika memiliki keunikan pada saat itu. Umumnya tema wayang dibuat satu tokoh dalam lukisan kaca.

Tokoh yang paling banyak digambar adalah Pandawa Lima dan Kresna. Rastika menyajikan tokoh wayang bentuk lain saat itu. Wayang dilukis dalam bentuk adegan, misalnya jejer Pandawa Lima dan Kresna, jejer Punakawan, bahkan adegan perang pun dibuat oleh Rastika. Pada waktu itu, membuat atau memasang adegan wayang perang dianggap masih tabu. Rastika telah membawa kreativitas baru dalam melukis kaca.

Pada tahun 1978, pameran di Galeri Sumardja FSRD ITB diadakan. Lukisan kaca Rastika banyak yang terjual. Kemudian disusul pada tahun 1986 di Hotel Syahid Jakarta, lukisan kaca Rastika juga mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para kolektor.

Pada tahun ini juga muncul tokoh seniman muda yang bernama Sumbar Prianto Sunuh (Toto). Lukisan Toto laku dengan harga puluhan juta. Tema yang dibuat Toto juga tidak jauh dari lukisan wayang. Adegan perang Jaya Tandingan, Jaya Sautan, Jaya Lenggeran, dan adegan Perang Bharatayudda yang pernah dibuat Rastika, dibuat ulang oleh Toto.

Toto membuat adegan perang tersebut dengan lebih dinamis dan modern. Lukisan kaca Toto dibuat seperti bergerak. Toto juga menggunakan spray gun lem dan alat bantu apa saja untuk menghidupkan karyanya.

Setelah dua peristiwa pameran tersebut, lukisan kaca Cirebon dipamerkan di galeri, hotel dan festival. Sebelumnya, lukisan kaca Cirebon hanya dipamerkan di acara muludan, dijajakan lewat sepeda atau dijajakn lewat gerobak dorong yang di dalamnya juga ada barang-barang kelontong. Generasi muda juga banyak yang tertarik menekuni seni lukis kaca. Berikut nama-nama sanggar yang sempat berjaya:

  1. Sanggar Sungging Prabangkara milik Rastika di Desa Gegesik Kulon Kecamatan Gegesik.
  2. Sanggar Tumaritis di Trusmi milik R. Sugro.
  3. Sanggar Respati di Keraton Kasepuhan milik R. Achid.
  4. Sanggar Kacirebonan di Keraton Kacirebonan milik P. Yusuf Dendabrata.
  5. Sanggar H. Winto di Klayan.
  6. Sanggar Hasan Basari di Gunung Jati.
  7. Sanggar Marsita di Ujung Gebang.
  8. Sanggar Sugiri di Klangenan.
  9. Sanggar Noerdjati di Kedawung dipimpin Rafan S. Hasyim.
  10. Sanggar Nono Swara di Sukasari.
  11. Sanggar Salim Satu di Gunung Jati.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya