Jatuh Cinta pada Wayang

Baca Juga

Dulu ketika masih kecil saya kerap kali diceritakan oleh Bapak tentang wayang sambil menyaksikan pagelaran wayang golek di televisi. Biasanya bapak akan menerjemahkan bahasa maupun lakon yang sedang dimainkan dalang karena saya tidak paham dengan bahasa dan alur ceritanya.

Wayang seringkali dianggap sebagai warisan dari ajaran Hindu yang diakulturasi para wali untuk mensyiarkan Islam. Begitu pun yang sering saya dengar, wayang adalah warisan Hindu. Sampai saat masuk ke pesantren saya menganggap bahwa wayang (kebudayaan) dan agama adalah sesuatu yang terpisah sehingga tidak bisa berhubungan secara dinamis.

Di pesantren saya sulit membedakan antara ajaran agama yang berupa syariat dan dalil-dalil keagamaan yang tentu saja boleh untuk diikuti maupun tidak sehingga saya memiliki pandangan yang kaku menyoal agama dan budaya.

Mengutip dari Islam Berkebudayaan karya M. Jadul Maula bahwa diskusi tentang kesejarahan wayang ini sangat banyak. Di kalangan akademisi Barat terdapat perbedaan tentang asal-usul wayang. Prof. Poensen menyatakan teori bahwa pertunjukan wayang mula-mula lahir di Jawa dengan bantuan dan bimbingan orang Hindu. Teori Poensen ini didukung oleh pendapat Prof. Vert yang menganggap bahwa wayang dan gamelan sangat dipengaruhi oleh peradaban yang lebih tinggi, yaitu Hindu.

Namun, teori di atas disanggah oleh Prof. Niemann yang mengatakan tidak mungkin wayang berasal dari Hindu. Hal ini dikuatkan pula oleh Dr. Brandes yang mengemukakan beberapa fakta bahwa orang Hindu mempunyai teater yang sama sekali berbeda dengan teater Jawa, dan hampir seluruh istilah teknis yang terdapat dalam wayang adalah khas Jawa bukan Sanskerta.

Th. G. Pigeaud pun turut menegaskan bahwa dugaan pertunjukan boneka wayang sebagai permainan yang terpisah sudah ada sejak dulu kemudian diisi dengan mistik Islam adalah tidak benar. Wali-wali penyebar Islam lah yang memberi peranan penting pada tujuan pertunjukan wayang dalam bentuknya yang sekarang.

Jauh sebelum mengetahui fakta di atas, saya sudah terlebih dahulu jatuh cinta lagi dengan kebudayaan dan pertunjukan wayang golek tepatnya ketika masuk ke perguruan tinggi dan mengikuti Sekolah Cinta Perdamaian yang dilaksanakan di salah satu pondok pesantren di Majalengka. Ternyata agama dan budaya mampu berjalan secara dinamis dan harmonis.

Pertunjukan wayang merupakan sarana dakwah yang sangat menyenangkan untuk disaksikan, kepiawaian dalang dalam menyampaikan cerita dengan diselingi banyolan yang segar mengubah wajah “dakwah” yang kaku dan membosankan menjadi fleksibel dan menyegarkan serta kaya akan nilai-nilai lokal masyarakat setempat. Hal yang paling umum dari wayang adalah penggunaan bahasa daerah yang kental dan jenaka.

Dalam pertunjukkan wayang, terutama wayang golek biasanya bercerita tentang pencarian pusaka di dalam hutan angker atau keramat yang dihuni oleh para dedemit hanya orang yang berniat baik, berhati bersih serta mematuhi nasihat dari guru spiritualnya yang bisa mengambil pusaka tersebut.

Wayang bisa juga diterjemahkan sebagai “Ma Hyang” yang berarti menuju pada ruh spiritual, dari makna tersebut tidak heran jika cerita pewayangan seringkali menampilkan kisah guru agama dan murid-muridnya yang mencari pusaka dan bisa diterjemahkan sebagai perjalanan spiritual para murid dalam rangka mencari kebenaran dan Tuhan.

Menurut Jadul Maula, golek (boneka) adalah sebuah ungkapan simbolik golekana (carilah), yang merupakan pesan kepada para penonton untuk mencari dan terus menggali makna-makna yang tersembunyi di dalam lakon yang sedang dan telah dimainkan oleh dalang. Maka ketika menyaksikan pertunjukan wayang kita harus jeli dan cermat membaca karakter, simbol dan mengikuti alur cerita dengan baik sehingga dapat menangkap pesan dan intisari dari pagelaran tersebut.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya