Wabah Menjangan Wulung dalam Pustaka Keraton Kacirebonan

Baca Juga

Sepeninggal Sunan Gunung Jati, Cirebon dilanda banyak masalah, dari internal maupun eksternal negara. Salah satu masalah yakni munculnya wabah penyakit menular yang melanda penduduk Cirebon. Ciri wabah itu, apabila yang menderita sakit pada sore hari, paginya dia pasti meninggal. Kalau pagi sakit, sorenya meninggal.

Kondisi seperti ini banyak menimbulkan membuat suasana kerajaan dan masyarakat terguncang. Wabah terutama mengguncang kondisi ekonomi dan keamanan Kerajaan Cirebon. Tapi goncangan terbesar adalah goncangan iman. Mengingat usia keislaman penduduk Cirebon masih sangat muda pada saat itu.

Apalagi panembahan Ratu l masih sangat muda saat diangkat menjadi raja. Sementara tokoh-tokoh pendiri Cirebon sudah banyak yang wafat. Akhirnya Sang Panembahan menyatakan akan tampil sendiri untuk mencari penyebab wabah. Kemudian Sang Penembahan memohon izin kepada Nyai Gedeng Pancuran (nama panggilan Ratu Dalem Pakungwati ketika sudah sepuh).

Nyai Gedeng Pancuran menuju Masjid Sang Ciptarasa. Dengan ditemani enam orang muadzin, Nyai Gedeng Pancuran melakukan adzan. Setelah adzan 7 orang selesai kemudian terdengar bunyi ledakan yang berasal dari memolo masjid. Masjid Sang Ciptarasa luluh lantak terbakar api yang sangat hebat.

Setelah kebakaran yang menghanguskan masjid mereda, masyarakat menemukan enam orang jasad muadzin. Jasad mereka kemudian dikuburkan di sekitar Masjid Sang Ciptarasa. Namun jasad Nyai Gedeng Pancuran tidak ditemukan.

Menurut sesepuh-sesepuh Cirebon, jasad suci Nyai Gedeng Pancuran ikut bersama rohnya menghadap Allah SWT. Pasca kebakaran, Panembahan Ratu mengundang para gegeden, kuwu, dan para adipati untuk menbicarakan pembangunan ulang Masjid Sang Ciptarasa.

Dalam musyawarah tersebut, para pembesar Cirebon sepakat urunan untuk membangun kembali Masjid Sang Cipta Rasa. Mereka juga menyepakati untuk mengubah bentuk arsitektur masjid dari bentuk atap susun tiga menjadi bentuk limasan, dengan tanpa memolo. Wallahu a’lam bishowab.[]

 

Sumber: Sejarah Cerbon Akhir. Disalin oleh Dul Muhamad Achmad dari Pustaka Kraton Kacirebonan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya