Topeng Tabuh Cirebon

Baca Juga

Menurut Legenda Cirebon, topeng dibawa oleh Sunan Kalijaga. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga sering menggunakan nama-nama yang berbeda. Sebagai seniman panggung, Sunan Kalijaga memiliki nama Sunan Panggung atau Pangeran Panggung. Sebagai seniman macepat, Sunan Kalijaga memiliki nama Ki Dalang Beluk. Kemudian sebagai seorang penata wayang, Sunan Kalijaga memakai nama Ki Kacaprawa. Dalam menyebarkan Islam lewat topeng, Sunan Kalijaga memiliki dua orang murid yang sangat berpengaruh bagi perkembangan seni topeng di Cirebon.

Pertama adalah Ki Bayalangu yang menyebarkan seni topeng dan wayang kulit di wilayah bekas kerajaan Cirebon bagian barat. Yaitu Gambuan, Palimanan, Selangit, dan Gegesik. Kemudian pengaruhnya sampai menyebar ke Indramayu dan Bongas (Majalengka). Kedua adalah Pangeran Angkawijaya atau Pangeran Losasi di Wilayah Timur. Pangeran Losari adalah putera dari Pangeran Mas Muhammad Arifin dan cucu dari Sunan Gunung Jati. Perkembangan di wilayah timur hanya tersisa di wilayah Desa Astanalanggar, Losari.

Menurut naskah Babad Cirebon, yang diedisi oleh Salana, wayang kulit Cirebon dipagelarkan tanggal 10 Rayagung 1482 M di Bangsal Paringgitan, Astana Nurgiri Ciptarengga, Cirebon. Malam harinya tari topeng. Sunan Kalijaga sendiri yang bertindak sebagai dalangnya. Pagelaran itu untuk merayakan pernikahan Ratu Dalem Pakungwati dan Sunan Gunungjati. Di saat yang sama, Sunan Gunung Jati meminta kepada Sunan Kalijaga untuk menggandakan desain wayang kulit kemudian Sunan Kalijaga menugaskan Pangeran Surya (Pangeran Kajoran) dan Pangeran Kejaksan untuk membuat duplikat dari desain wayang itu.

Pada abad ke-17 Ki Kawitan berlabuh ke Buk Simuntuk, Cirebon. Ki Kawitan adalah seorang seniman besar yang berasal dari Madiun. Dia juga dikenal juga dengan Ki Miyun. Ki Miyun datang bersama istrinya untuk menghindari keserakahan dari Amangkurat I yang mencintai istrinya. Kedatangan Ki Miyun diterima oleh Panembahan Girilaya. Panembahan Girilaya mempersilakan Ki Miyun untuk berkarya di Cirebon. Kemudian salah satu keturunan Ki Miyun yaitu Ki Darmarum mendirikan kelompok kesenian wayang wong di Desa Suranenggala. Ki Darmarum membuat topeng dengan karakter tokoh wayang figur Mahabarata. Topeng wayang eong tersebut berjumlah 40 buah.

Pada masa itu, telah banyak kelompok wayang wong, yaitu grup wayang wong Setianegara milik Ki Darmarum sendiri, grup wayang wong Ki Surna di Desa Grogol, Kec. Gunung Jati, grup wayang wong Kedawung milik Ki Mulki, grup wayang wong Gegesik, dan grup wayang wong dari Palimanan. Kelompok-kelompok wayang wong yang ada di Cirebon saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Salah satu penghubungnya adalah topeng wayang wong buatan Ki Darmarum. Topeng wayang wong tersebut selalu berpindah-pindah sehingga disebut “Kedok Siglinding.”

Setelah Ki Darmarum wafat, kemudian dilanjutkan putranya yang bernama Ki Kandeg. Ki Kandeg adalah seniman serba bisa. Selain dikenal sebagai dalang wayang wong dan wayang kulit, Ki Kandeg dikenal juga sebagai pembuat topeng, dalang macapat, penata wayang kulit dan penari. Ki Kandeg memiliki tiga orang murid yang sangat berpengaruh bagi perkembangan kesenian di Cirebon. Mereka adalah Ki Ahmad Kadrawi, yang dikenal sebagai penatah wayang kulit. Ki Dama yang dikenal sebagai pembuat topeng. Kemudian Ki Sujana Priya yang mewarisi hampir semua bakat Ki Kandeg.

Ki Sujana Priya pada 2004 menghidupkan kembali grup wayang wong yang sudah dinyatakan punah pada 1984. Grup wayang wong milik Sujana Priya kemudian sering diundang di berbagai kegiatan seni di Cirebon, Bandung, dan Jakarta. Pada 2014, Ki Sujana Priya telah berhasil membuat tambahan jumlah “Kedok Siglinding” dari 40 buah menjadi 100 buah. Kemudian hasil karyanya itu disimpan menjadi koleksi di Narada Art Gallery di Cilimus, Kuningan. Sujana Priya sendiri kemudian diundang untuk memamerkan hasil karyanya dan mendemonstrasikan pembuatan topeng MAJ Gallery Adelaide, Australia Selatan.

Jejak-jejak perjalanan Cirebon begitu panjang dan berliku-liku. Setiap daerah memiliki ragam dan variasi yang khas yang disesuaikan dengan citarasa dan karakter daerah masing-masing. Ki Koncara pada sekitar 1800-an membawa dan memperkenalkan topeng Cirebon sampai ke wilayah Priyangan. Dalem Bandung yang berkuasa saat itu begitu tertarik dengan topeng, sehingga menyuruh putri-putrinya belajar tari topeng. Muncul perbendaharaan baru yang dikenal topeng Priyangan.

Sekarang tari topeng Cirebon memiliki tiga perbendaharaan, yaitu topeng lakon yang sudah dipagelarkan lagi sejak tahun 1988, lakon terakhir yang penulis saksikan adalah lakon Jaka Bluwo. Kemudian ada topeng gede yang mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Jenis topeng ini dikenal dengan nama wayang wong. Upaya Sujana Priya untuk menghidupkan kembali wayang wong cukup berhasil. Saat ini sudah bermunculan grup wayang wong di Keraton Kacirebonan pimpinan Elang Heri Komarudin. Kemudian Ki Dalang Anung memimpin wayang wong di daerah Kalianyar, Kec. Arjawinangun.

Jenis tari topeng yang cukup berkembang saat ini adalah jenis topeng pancawanda (lima wajah/karakter). Lima jenis karakter tersebut adalah:

  1. Topeng Panji. Panji artinya mapan ingkang sawiji (memantapkan makrifatullah kepada Allah.
  2. Topeng Pamindo. Pamindo artinya “mindo” atau mengulang atau memperbaharui. Kita harus senantiasa memperbaharui ibadah kita agar senantiasa terjaga.
  3. Topeng Rumyang. Rumyang berasal dari kata “miyang” atau pergi. Kita harus mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah.
  4. Topeng Patih/Tumengggung. Kondisi di mana manusia dalam keadaan dewasa.
  5. Topeng Kelana/Ruwana. Kondisi manusia yang berada di puncak kejayaan.

Jejak perjalanan, ragam dan narasi sosial dalam topeng Cirebon itulah yang diusulkan oleh Andi dalam karyanya yang berjudul Topeng Tabuh Cirebon. Topeng Tabuh Cirebon menampilkan sapuan koas dan kupasan pisau palet Andi yang dibingkai canvas. Pengalaman visi dan rasa spiritualnya mencoba mendeskripsikan lewat karyanya. Eksotisme gerakan tari topeng ditampilkan lewat goyangan koasnya. Warna-warna yang matang merupakan wujud dari penelusuran spiritualisme filosofi topeng. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya