Tarling: Yen Wis Mlatar Gagea Eling

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Tarling adalah seni musik yang berasal dari wilayah pantura Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat. Tarling merupakan akronim dari ‘gitar’ dan ‘suling’ (seruling). Petikan gitar dalam tarling merupakan adaptasi nada gamelan Cirebonan sehingga suara yang dihasilkannya menjadi khas dan berbeda dari biasanya. Alat musik gitar (diatonis) ternyata bisa merangkum nada-nada gamelan yang pentatonis.

Selain gitar yang bernada gamelan Cirebon, tarling juga mempunyai beberapa kekhasan yang membedakannya dengan dangdut, misalnya. Cengkok tarling berbeda dengan dangdut karena tarling berangkat dari suara gamelan. Gendang dalam tarling juga berbeda dengan dangdut. Dangdut biasanya menggunakan gendang India sementara tarling menggunakan gendang yang biasa digunakan dalam pagelaran wayang kulit Cirebonan, sebuah gendang besar yang disebut blangpak dan gendang kecil yang disebut ketipung.

Tarling berawal dari Desa Kepandean, Indramayu, Jawa Barat. Suatu hari pada 1931, seorang komisaris Belanda bernama Antonio meminta tolong kepada warga setempat, Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar akustiknya. Setelah selesai diperbaiki, komisaris Belanda itu tidak mengambil kembali gitarnya. Mang Sakim yang disebut sebagai ahli gamelan pun mempelajari nada-nada gitar untuk kemudian membandingkannya dengan nada-nada gamelan.

Lebih jauh, anak Mang Sakim, Sugra mencoba menyandingkan gitar dengan lagu-lagu (kiser) Cerbonan dan Dermayon. Kiser biasanya hanya diiringi dengan musik gamelan. Hasilnya, perpaduan suaranya begitu indah. Harmoni semakin terdengar indah setelah kiser plus gitar diiringi juga dengan nada suling. Pada periode awal ini, gitar-suling yang disandingkan dengan lagu-lagu lokal sering dimainkan anak-anak muda sambil nongkrong di jondol.

Jika Mang Sakim maupun Sugra sulit dilacak karyanya, pada era 1950-an hingga 1960-an awal, dikenal nama Jayana yang menciptakan Kiser Dermayonan. Karya Jayana yang masih bisa dinikmati sampai sekarang di antaranya adalah Kiser Manunggal. Pada 1950-an juga dikenal nama Uci Sanusi, seorang seniman keroncong yang berhasil meramu tarling dengan keroncong. Uci juga orang pertama yang membawa tarling ke atas panggung dengan tujuh alat musik: dua gitar, satu seruling, dua gong, satu kecrek dan satu set gendang.

Meski telah berlangsung cukup lama, hasil eksperimentasi musik dari wilayah pinggiran Pantura Jawa Barat ini belum mempunyai nama.  Baru pada 17 Agustus 1962, Ketua Badan Pemerintah Harian, Drs. Memed meresmikan nama ‘tarling’ di Arjawinangun, Cirebon. Tarling, selain merupakan akronim dari ‘gitar’ dan ‘suling’ juga diidentikkan dengan sebuah pesan moral: yen wis mlatar gagea eling, artinya jika sudah banyak dosa, lekaslah sadar (tobat).

Radio merupakan media yang punya andil demikian besar dalam memasyarakatkan tarling pada periode berikutnya. Pada 1965, tarling mulai mengudara di RRI Cirebon. Begitu khasnya, oleh RRI, nama tarling disebut sebagai ‘Melodi Kota Udang’.  Radio lain seperti Radio Sindangkasih (RSK) Cirebon juga sering memutarkan tarling. Di RSK sejak tahun 1978 dikenal penyiar Bi Bunyil yang akrab dengan para pendengarnya sebagai kuncen lagu-lagu tarling.

Pada masa radio ini, tarling sudah bercampur dengan musik pop dan sedikit terpengaruh kejayaan musik dangdut. Di sini tarling sering juga disebut pop tarling atau tarling dangdut. Muncul nama-nama seperti Abdul Adjib dan Sunarto Martaatmaja (Kang Ato). Masa ini bisa dibilang masa kejayaan tarling yang pertama. Lagu tarling gubahan Abdul Adjib, Warung Pojok tampil dalam Festival Lagu-lagu Rakyat Internasional (International Folksong Festival) pada 1969 di Denhaag, Belanda. Sebelumnya, lagu ini begitu akrab di telinga pendengar radio di Australia dan Malaysia. Bahkan pernah dibuatkan film dengan judul yang sama pada 1977.

Setelah sempat mengalami kemunduran pada tahun 1980-an, memasuki 1990an akhir, tarling kembali bangkit dengan segala perubahannya. Tarling pada masa ini lebih dikenal dengan nama ‘Dangdut Cerbonan’ atau ‘Dangdut Dermayonan’. Disebut demikian karena nuansa musik gamelan sudah mulai hilang, digantikan dengan penggunaan alat musik baru yang lebih modern seperti organ elektronik. Tarling masa ini mencapai puncaknya setelah tahun 2000-an. Pada 2002-2006, di Indramayu misalnya, terdapat 285 grup tarling berdiri. Hampir tiap desa memiliki grup tarling. Ini adalah masa kejayaan tarling yang kedua. Media televisi dan CD/DVD pun menjadi media baru yang turut mengenalkan tarling ke seluruh Indonesia.

Lirik dalam lagu tarling klasik kebanyakan berupa wangsalan dan parikan (pantun dan sastra lisan Cirebon). Seperti dalam Kiser Dermayonan karya Jayana: Karangkendal Kaliwungu//Ajar kenal mumpung ketemu. Atau dalam Supir Inden karya Abdul Adjib: Arjawinangun Palimanan//Aja ngalamun sing kelingan. Wangsalan ini tetap dipertahankan pada periode yang lebih mutakhir, meski demikian, semakin jarang lagu ‘Dangdut Cerbonan’ yang masih menggunakan gaya lirik demikian. Secara umum, lirik lagu tarling dari yang paling klasik hingga kontemporer, dari Kiser Dermayon hingga zaman Organ Dangdut selalu bercerita tentang hal yang sangat dekat dengan keseharian masyarakatnya, Cirebon dan Indramayu.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya