Sega Lengko

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke atas nasi biasanya adalah tahu, tempe, toge, daun kucai, mentimun, sambal kacang dan kecap. Sepintas, nasi lengko mirip dengan nasi pecel Madiun. Perbedaannya terletak pada cita rasa sambal kacangnya dan bahan yang ditaburkan di atasnya.

Cara penyajiannya, sambal kacang dibubuhkan ke atas nasi putih yang telah disiapkan di piring. Selanjutnya secara berurutan ditambahkan pula toge, irisan kecil mentimun, irisan tahu dan tempe goreng yang masih panas. Lalu ditaburi daun kucai dan kecap manis untuk menambah cita rasa.

Terakhir, hidangkan nasi lengko bersama kerupuk atau sate sebagai pelengkap. Cita rasa nikmat, gurih dan manis akan muncul saat menikmati kuliner ini. Bagi penyuka pedas, sambal bisa ditambahkan ke dalam nasi.

Nasi lengko termasuk makanan yang sangat sederhana karena bahan-bahannya sangat mudah didapat. Tapi soal citarasa, nasi lengko tidak bisa diremehkan. Buktinya, sangat jarang orang Cirebon dan sekitarnya tak mengenal nasi ini. Bahkan, nasi lengko semakin banyak dicari para wisatawan dari luar kota.

‘Lengko’ sendiri berasal dari kata ‘langko’ yang merupakan logat Plered dan sekitarnya untuk menyebut kata ‘langka’ atau ‘laka’ dalam bahasa Cirebon. Kata ini berarti ‘tidak ada’ dalam bahasa Indonesia.

Kata ‘laka’ sendiri bisa juga berarti ‘berstatus ekonomi lemah’ saat dilekatkan sebagai predikat dari subjek berupa manusia. Seperti dalam kalimat ‘isun wong laka, lamun kaen sih wong ana’ yang biasanya diartikan dengan ‘saya sih orang tidak punya, kalau dia orang berpunya.’

Diceritakan dari satu sumber, nasi lengko merupakan makanan masyarakat Cirebon zaman pra kemerdekaan. Saat itu, kondisi masyarakat serba kekurangan. Lauk sederhana seperti tahu dan tempe, serta sayur ala kadarnya cukup untuk membuat perut kenyang tapi dengan harga sangat terjangkau.

Begitu sederhananya, di beberapa daerah di Cirebon, nasi lengko dikenal tidak disertai dengan bumbu kacang.

Tapi semakin ke sini, saat nasi lengko semakin digandrungi, para penjaja kuliner ini melakukan kreasi yang sesuai dengan kondisi zaman. Dalam kondisi ekonomi yang semakin baik, beberapa warung penjual sega lengko mulai menambahkan sate kambing sebagai teman makan nasi lengko.

Ada pula yang mengatakan ‘lengko’ berasal dari kata ‘leko’ yang berarti ‘kental’. Kesan kental sendiri muncul karena biasanya, sebelum dimakan, nasi ini diaduk-aduk terlebih dulu. Saat sambal kacang sudah tercampur rata dengan nasi maka nasi terlihat menjadi begitu kental.

Orang Cirebon menyebutnya dengan ‘leko’. Dalam perkembangannya, banyak orang yang mengartikan kata ‘lengko’ sebagai akronim dari kata ‘lengkap tapi ekonomis’. Tentu saja kesan bahwa kuliner ini sangat sederhana tidak hilang dari benak masyarakat.

Nasi lengko mulai dikenal masyarakat luas saat kuliner ini dijajakan di tengah kota. Awalnya, penjual nasi lengko banyak yang membuka warung di Paras Mambo, Jalan Lawanggada, Kota Cirebon.

Saat ini, warung nasi lengko yang terkenal ada di Jalan Pagongan, Jalan Bahagia dan Jalan Pangeran Drajat, Kota Cirebon. Warung nasi lengko di Pagongan menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya