Sega Jamblang

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Sega Jamblang atau Nasi Jamblang adalah makanan khas Cirebon, Jawa Barat yang terdiri dari nasi putih beserta lauknya. Makanan yang digemari masyarakat lokal dan diburu para wisatawan ini dijual di banyak tempat di Cirebon, kabupaten dan kota. Beberapa pedagang bahkan mulai membuka warung di luar Cirebon.

Ciri khas makanan ini terletak pada bungkus nasi dan cara penyajiannya, sementara lauk pauknya hampir sama seperti yang terdapat di daerah lainnya. Nasi sebesar genggaman tangan biasanya dibungkus daun pohon jati. Banyaknya bungkus nasi disajikan sesuai dengan permintaan pembeli.  Setelah itu, pembeli mengambil lauknya sendiri yang telah tersedia di lapak.

Lauknya terdiri dari jenis garingan (kering) seperti paru sapi goreng, tempe goreng, tahu goreng, ikan asin, panjelan, telor dadar, sate kentang, dsb.; juga jenis telesan (basah) seperti sayur tahu, terong balado, semur blekutak (cumi), semur ikan tongkol, semur daging sapi, semur hati ayam/sapi, semur telur ceplok, dan sebagainya.

‘Jamblang’ pada istilah ‘Sega Jamblang’ merujuk pada sebuah daerah di Kabupaten Cirebon tempat kuliner ini berasal. Daerah Jamblang terletak 16,5 km di sebelah Utara Sumber, ibukota Kabupaten Cirebon dan sekira 17,5 km sebelah Tenggara dari pusat Kota Cirebon.

Sega Jamblang diceritakan pada awalnya khusus dibuat untuk konsumsi buruh pribumi pada zaman kolonial Belanda-Perancis. Nasi dibungkus daun jati bertujuan agar nasi tidak cepat basi. Daun jati yang berpori besar bermanfaat untuk menjaga nasi tetap enak dimakan meski disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Nasi yang dibungkus daun jati ini sengaja dibuat agar awet untuk keperluan konsumsi para pekerja paksa yang sedang membangun Jalan Raya Pos/Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan. Salah satu titik yang dilewati Jalan Pos adalah wilayah Desa Kasugengan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon (2 km arah Selatan Pasar Jamblang).

Pembuatan jalan yang membentang 1.000 km sepanjang utara Pulau Jawa ini memerlukan banyak tenaga kerja. Kelaparan seringkali menjadi masalah saat pekerjaan berlangsung dan salah satu solusinya saat itu adalah dengan membuat nasi menjadi tidak terbuang dan awet hingga muncul inovasi nasi tersebut dibungkus daun jati.

Sega Jamblang dalam cerita yang berkembang di daerah setempat dibuat pertama kali oleh warga Jamblang, Abdul Latief dan istrinya, Mbah Pulung. Dalam versi ini diceritakan, Sega Jamblang dulu menjadi konsumsi para buruh Pabrik Gula Gempol, Pabrik Gula Plumbon, Pabrik Spirtus Palimanan dan buruh pembuatan jalur kereta api di Cirebon pada medio 1800-an.

Selanjutnya Sega Jamblang dijual secara luas dan sempat mencapai puncaknya pada tahun 1960-1970an. Begitu tenarnya Sega Jamblang hingga dibuatkan lagu tarlingnya dengan judul yang sama oleh maestro tarling Cirebon, Abdul Adjib.

Beberapa warga Jamblang termasuk keturunan pembuat Sega Jamblang generasi pertama, Mbah Pulung, pada tahun 2000-an mulai berdagang kembali karena melihat potensi wisata kuliner di Cirebon yang semakin meningkat. Akan tetapi, wisatawan sudah terlanjur banyak yang mencari Sega Jamblang di daerah lain dibandingkan mencari ke daerah asalnya, Jamblang.

Beberapa daerah tempat berjualan Sega Jamblang yang dikenal wisatawan biasanya berada di daerah Kota Cirebon seperti di daerah Gunung Sari, Jalan Tentara Pelajar, Pelabuhan Cirebon, Stasiun Kejaksan, dan Jalan Ciptomangunkusumo.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya