Falsafah “Ana Rungu Dirungu, Ana Deleng Dideleng” Dst..

Baca Juga

Abdul Rosyidi
Abdul Rosyidi
Meminati kajian-kajian budaya dan filsafat.

Masyarakat Cirebon sangat mengenal istilah ini: “Ana rungu dirungu. Ana deleng dideleng.” Artinya “ada sesuatu yang terdengar, didengar. Ada yang terlihat, dilihat”. Beberapa orang menyebut ini sebagai elmu Cerbon, atau ilmunya orang Cirebon. Ini ilmu tingkat tinggi. Begitulah kata orang-orang di Cirebon.

Tapi pernahkah terpikir barang sejenak, sebenarnya dari mana nasihat ini berasal? Lalu apa maknanya?

Konon, ini adalah nasihat dari orang tua (Aki-aki) kepada Raden Mas Said (Sunan Kalijaga), sesaat setelah ayahnya meninggal dunia. Sebagai pewaris kerajaan Tuban, Raden Mas Said dilanda kebimbangan, antara meneruskan tahta, ataukah meninggalkannya sama sekali. Pilihan “jalan sepi” pun diambilnya dan sebagai bekal, Aki-aki memberikan nasihat (dongeng) yang kelak akan berguna bagi kehidupannya di masa depan.

Seperti diketahui, Sunan Kalijaga lama bermukim dan mengajarkan pengetahuannya di Cirebon. Orang-orang Cirebon masih mengenalnya dengan baik, termasuk nasihat-nasihatnya. Nasihat ini terutama ditransmisikan lewat wayang hingga masih dikenal sampai sekarang.

Selain lewat wayang golek cepak yang lebih luwes, nasihat ini juga sering dikutip dalang dalam lakon ruwatan. Seperti lakon Ruwatan Murwakala yang dibawakan Ki Dalang Abi Hudaya sebagaimana telah ditulis DR. Achmad Opan Safari.

Sejarah Carruban Kawedar menyebutkan kisah ini cukup panjang. Diceritakan, setelah membagikan seluruh harta warisan kepada seluruh warga, tersisa uang 2000 dirham di tangan Raden Mas Said. Dengan uang tersebut, dia membeli dongeng dari Aki-aki. Dongeng tersebut selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

  1. Ana rungu dirungu, ana deleng dideleng, ana rusia aja dibuka;
  2. Ana rejeki aja ditampik;
  3. Rabi ayu aja sinarean.

Pada cerita berikutnya, nasihat Aki-aki inilah yang menyelamatkan Raden Mas Said dari kematian dan kehinaan hidup. Nasihat ini amat berguna baginya di tengah gejolak zaman yang semakin tidak karuan. Rakyat menderita dan kekacauan terjadi di mana-mana.

Cerita menyebutkan, Raden Mas Said selamat dari fitnah di negeri Sukadana yang dipimpin Sang Prabu Urawan yang juga disebut Sang Prabu Panji Bergola. Permaisuri sang Raja sangat mencintai Raden Mas Said, dan dalam peristiwa penuh fitnah, Sang Raja mengeluarkan hukuman mati kepadanya. Tapi dia selamat. Justru seterunya, Raden Jaka Taruna, putra Jodipatih yang akhirnya terpancung.

Prinsip pertama yang selalu dipegang Raden Mas Said adalah melihat dan mendengar apa yang terjadi tanpa menghakimi dan memutuskan. Bahkan ketika peristiwa yang dimaksud adalah kesalahan besar dalam kaidah moral umum di tengah masyarakat.

Perselingkuhan permaisuri Prabu Urawan dengan Jakataruna adalah rahasia di kerajaan Sukadana. Saat menjadi abdi dalem di kerajaan tersebut, Raden Mas Said mengetahui rahasia besar tersebut. Tapi tak sekalipun dia membuka mulutnya kepada orang-orang.

Ini yang biasanya juga dipegang orang-orang Cirebon: tidak mudah membuka rahasia meskipun dia melihat dan mendengarkannya secara langsung.

Ini juga berarti orang Cirebon sangat berhati-hati dalam membaca realitas. Masa-masa penuh fitnah rawan mencelakakan karena kita tidak benar-benar memahami situasinya. Yang benar bisa jadi salah dan yang salah bisa jadi benar. Kita tidak benar-benar tahu dan mengerti apa yang sampai ke mata dan ke telinga.

Indera seringkali menipu dan informasi yang diperoleh darinya tidak pernah cukup untuk dicerna akal menjadi sebuah keputusan final. Tidak ada yang paripurna dari indera. Dan pada saat demikian, pilihan terbaik adalah diam.

Nasihat berikutnya, “ana rejeki aja ditampik” juga memberitahukan kepada kita tentang karakter orang Cirebon yang tidak menolak pemberian apapun dari orang lain. Orang yang menolak pemberian dikesankan sebagai orang yang tidak baik, tidak sopan, dan sebagainya.

Tapi nasihat ini juga berarti tidak boleh berlebihan dalam mencari rejeki. Jangan sampai urusan duniawi menjadi prioritas dalam kehidupan. Sehingga tujuan hidupnya hanya satu saja yakni mencari harta. Ingat nasihat lain, sugi ora rerawat, mlarat ora gegulat. Artinya, kaya tidak menimbun harta, miskin tidak mencarinya membabi buta.

Nasihat yang ketiga dari cerita Raden Mas Said ini, rabi ayu aja sinarean. Artinya istri secantik apapun, jangan mudah bagi kita untuk bersenggama dengannya. Inti dari nasihat ini adalah pada pengendalian hasrat. Kontrol diri terhadap hasrat juga menjadi prinsip bagi masyarakat Cirebon.

Pengendalian hasrat inilah kunci relasi suami dan istri untuk menuju pada sesuatu di balik hasrat, yakni cinta. Hanya kesejatian cinta yang mampu mengikat dua manusia dengan jiwa, karakter dan kepribadian yang berbeda. Tanpanya, yang muncul adalah hasrat, pemaksaan, dan hubungan yang tidak harmonis.

Begitulah falsafah peninggalan Sunan Kalijaga sewaktu muda yang masih tersimpan dalam memori kolektif orang-orang Cirebon. Semoga kita bisa mencernanya dengan baik sesuai dengan kondisi zaman yang berbeda.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya