Serat Suluk Bangun Umah (Bagian 3): Makna Tani

Baca Juga

Simbol-simbol lainnya dalam SSBU digambarkan dengan pola bercocok tanam padi. maknanya nyaris sama dengan simbol umah yang diuraikan sebelumnya. Ada hal menarik perihal tani (hlm. 38), disusun dalam Kinanthi berikut petikannya:

  • bapa tani tegesipun,

bapa iku kang ngawiti,

pembukae maring jagat,

tegese kang ngaruhuni,

iya ingkang dhingin ika,

iya lahir lawan batin.

  

  • sira kudu wetru(h),

mring bapa lahir lan batin,

embok bapa wajib sinembah,

iya lahir iya batin,

aja salah adhepira,

mungguhing tegesing tani.     

  • aksarane eta iku,

ing tegese mata kali(h),

bunder loro ing dhuwur ika,

aksara ni under siji,

bisae muni ika,

den-suluhan mata batin.

  • mata batin iya iku,

aksarane ya bunder kali(h),

kang ana ngingsor punika,

kang pinangka mata batin,

loroning tungga teluning tunggal,

jumeneng ana ing pribadi.

 

  • Bapa Tani artinya,

bapa itu yang memulai,

pembuka menuju jagat,

maknanya yang mendahului,

iya yang terlebih dahulu,

iya lahir dan batin.

 

  • Engkau harus tahu,

terhadap bapa lahir dan batin,

ibu bapa wajib disembah,

iya lahir dan batin,

jangan salah menghadapmu,

adapun artinya tani.

 

  • Aksaranya ‘ta’ itu,

artinya dua mata,

bundar di atas,

aksara ‘ni’ bundar satu,

bisanya berbunyi itu,

diterangi oleh mata batin.

 

  • Mata batin yaitu,

aksara ‘ya’ bundar dua,

yang berada di bawah,

itu menjadi mata batin,

keduanya menyatu ketiganya menyatu,

bersemayam pada diri pribadi.

 

Tani dituliskan serta diuraikan makna filosofisnya dengan aksara pegon. Tanda titik pada ketiga hurufnya dimaknai kesatuan pandangan mata lahir dan mata batin. Titik yang merupakan karya cipta Abul Aswad ad-Dualy, seorang ahli bahasa dan tulisan Arab di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib[1] menjadi punya makna lain, bukan saja sebagai tanda pembeda suku kata ta, na, ya.

Hal di atas mengingatkan pada penuturan Pangeran Balong atau Pangeran Semaun suwargi[2] dari Wanasaba yang dicatat oleh Susanto Z. Hadisutjipto, “Loro-loroning atunggal” ‘tetap dua namun menyatu’[3]. Kesemuanya itu bermuara pada pemahaman tarekat Sattariyah yang berkembang di Cirebon.

Sebagai sebuah naskah yang belum digarap secara benar, dalam artian sebagaimana mestinya naskah kuno, yakni sentuhan filologi dengan belum adanya edisi teks, namun uraian di atas mungkin bisa memberi sedikit gambaran tentang apa dan bagaimana SSBU.

Pemakaian simbol rumah, petani, bercocok tanam, mewakili bahwa aspek-aspek lokal membuat ajaran yang terkandung dapat ditransformasikan secara lebih cair.

Mengenai hal semacam ini Masnun Tahir menyatakan:

Walaupun kita yakin bahwa Islam itu wahyu Tuhan yang bersifat universal, yang gaib, namun akhirnya ia dipersepsi oleh si pemeluk sesuai dengan pengalaman, problem, kapasitas, intelektual, sistem budaya, dan segala keragaman masing-masing pemeluk di dalam komunitasnya. Dengan demikian, memang justru dua dimensi ini perlu disadari yang disatu sisi Islam sebagai universal, sebagai kritik terhadap budaya lokal, dan kemudian budaya lokal sebagai bentuk kearifan (local wisdom) masing-masing pemeluk di dalam memahami dan menerapkan Islam itu[4].

Dengan melihat simbol serta metode yang digunakan dalam SSBU adalah salah satu produk Islam lokal, senada dengan apa yang dikatakan Gus Dur sebagai pribumisasi Islam dalam sekup Bedulan.[]

 

[1] C. Israr, dari teks klasik sampai ke KALIGRAFI ARAB, (Jakarta: Yayasan Masagung, 1985), hlm. 65.
[2] Almarhum.
[3] Susanto Z. Hadisutjipto, Wayang Cirebon, dalam Katalog, PEKAN APRESIASI WAYANG CIREBON, diselenggarakan Oleh Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, 1-9 Juni 1985, hlm. 34.
[4] Masnun Tahir, “Pergumulan Hukum Islam dan Budaya Sasak; Mengarifi Fiqih Islam Wetu Telu”, ISTIQRO’, Vol. 06, No. 01, (2007), hlm. 175-176.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya