Serat Suluk Bangun Umah (Bagian 2): Lima Macam Rumah Cirebonan

Baca Juga

SSBU intinya mengisahkan dialog antara Ki Grahita dengan putranya Jaka Taruna dari Dusun Sunya. Dalam naskah tersebut, Jaka Taruna mempertanyakan perihal umah kepada bapaknya, lantas di jawab oleh Ki Grahita, umah itu ada kamsatun (khamsatun) yang artinya lima, yaitu:

  1. Umah Parte Sari’at

Bermacam-macam bentuknya Pencu, Dhokom, Limas, Srotongan[1] dan sebagainya. Rumah berbentuk materi sebagai tempat kita bernaung.

Sesuai dengan namanya Umah, U = Urip, artinya hidup, mah = tempat menetap. Jadi umah tempat menetap orang yang masih hidup.

  1. Umah Parte Tarekat

Artinya, Umah Lanang ’rumah lelaki’. Maksudnya perempuan, bagai warangka untuk keris. Dirawat dengan  sandang pangannya, sesuai selera yang melakoni rumah tangga. Istri harus berbakti kepada suami, tapi suami pun tak kalah berat, harus memikul tanggung jawab lahir dan batin. Seperti Pangeran[2] bagi istrinya.

  1. Umah Parte Hakekat

Hak = nyata, kekat = dirinya. Rumah diri pribadi kita, raga kita adalah rumah kita, rumah bagi sukma sejati. Harus dirawat dengan lebih baik (hati-hati), tidak cukup dengan makan dan tidur atau beristri,  semua itu  adalah kebutuhan lahir, sedangkan harus lahir dan batin. Merawatnya dengan pengabdian kepada Gusti, jika mengabdi haruslah tahu siapa Gustimu, luar dan dalam, seperti itulah mengabdi.

  1. Umah Parte Ma’rifat

Rumah ma’rifat ini berada di dalam kubur yang pastinya akan kita temui, siapa pun itu orangnya tanpa terkecuali. Jangan terlalu lama di situ, segeralah pergi ke rumah berikutnya.

  1. Umah Parte Islam sejati.

Rumah Islam artinya selamat yang sejatinya selamat, selamat menjadi Islam. Jangan menjadi kotoran bumi, itu terjadi bila terlalu lama dalam kubur. Jika tidak menemukan rumah terakhir ini maka kita akan kafir.

Dari kutipan isi naskah SSBU di atas (hlm.1-19) maka bisa kita lihat genre sastra wulang yang kental. Tokoh Ki Grahita merupakan personifikasi dari kejernihan perasaan manusia, karena Grahita berarti indra atau perasaan. Adapun Jaka Taruna, sesuai namanya Taruna berarti muda atau pemuda. Pemuda dalam masyarakat Cirebon seringkali gambaran birahi atau gairah, semangat untuk mengejar, meraih, menggapai  sesuatu, terutama pasangan hidup. Tokoh ini sangat dekat bahkan identik dengan karakter kedok Samba atau Pamindo dalam tari topeng Cirebon[3].

Terbukti manakala Ki Grahita rampung menerangkan lima rumah itu, Jaka Taruna mengutarakan maksudnya untuk memiliki Umah Tarekat yang berarti perempuan atau istri (hlm. 29).  Lokasi di mana tempat mereka bermukim bernama Dusun Sunya, berarti sepi, keheningan, gambaran suasana ruang kontemplatif dalam jiwa, guna mendapatkan kebenaran yang disebutkan di SSBU Umah Parte Islam sejati.

Perbedaan Shalat dan Sembahyang

Pada halaman selanjutnya (hlm. 21-24) bagaimana SSBU menguraikan bahwa gerak-gerak dalam Sembahyang adalah perwujudan dari empat unsur penciptaan manusia, dan memberikan makna yang berbeda pada kata Sholat dengan Sembahyang. Sembahyang diartikan sebagai aktifitas lahiriyah, maka dari itu dibatasi oleh masa atau waktu. Berbeda dengan Sholat yang memiliki arti puji, maka ia bersifat niskala tak pernah ada akhir, puji tan pegat terus menerus berjalan itulah Sholat.[]

 

[1] Tipe-tipe rumah ala Cirebon dahulu.
[2] Pangeran berasal dari kata pangengeran, artinya orang atau sesuatu yang kita ikuti atau kita taati.
[3] Bisa kita lihat dari bentuk tarian maupun lagu pengiringnya menggambarkan keriangan, kelincahan masa muda dalam meraih pasangan idaman.  Salana, Beberapa Catatan Tentang Topeng Cirebon, tanpa tahun, tidak diterbitkan, hlm. 8.
Berita sebelumyaSalah Pengerten
Berita berikutnyaSuluk Mari Kangen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya