Serat Suluk Bangun Umah (Bagian 1): “Sastra Wulang” dari Bedulan

Baca Juga

Jika mendengar nama Bedulan maka di benak banyak orang Cirebon, yang muncul tidak jauh dari kesan sangar, preman, sengget[1] dan gulu banyak[2]. Semuanya nyaris berkonotasi kekerasan.  Kemungkinan citra itu yang muncul, disebabkan sejak beberapa abad lampau di daerah Bedulan yang sekarang mencakup dua kecamatan,

Kecamatan Suranenggala dan Kecamatan Kapetakan adalah kesatriyan[3], di sana tinggal beberapa elit militer Kerajaan Cirebon di era Sunan Gunung Jati, Adipati Suranenggala, Panglima Perang Kerajaan Cirebon Pangeran Karangkendal atau Syekh Magelung Sakti, Senopati Sarwajala (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Cirebon Ki Ageng Bungko.

Pada masa penyerangan Sultan Agung penguasa Mataram ke Batavia di tahun 1626-1629[4] yang gagal total, daerah itu menjadi tempat suaka para manca[5], mereka adalah prajurit dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tapakan mereka bisa kita lihat diantaranya dari nama Desa Surakarta dan Desa Kertasura.

Hal itu sesungguhnya mengakibatkan  perubahan sistem mata pencaharian dari nelayan menjadi petani. Maka bisa dipastikan peralihan sistem budaya dari budaya pesisir menjadi budaya pedalaman, kendati yang terjadi sesungguhnya percampuran antara pesisir dan pedalaman[6].

Sesungguhnya tidak semua hal berbau negatif yang mengendap di benak orang, bagi sebagian lainnya, mereka yang memiliki rekaman positif tentang daerah ini akan mengingat sebagai salah satu daerah di Cirebon, sebagaimana Gegesik, Palimanan, Plered, Losari, dan lain-lain.

Bedulan akan mengingatkannya pada Masres, teater tradisional, sebab Bedulan menjadi daerah sentra kesenian tersebut. Selain itu Wayang Sempangan, sebuah nama gaya mendalang wayang kulit yang hanya ada di Bedulan, terutama tokoh Baladewa yang senang reak (mengeluarkan dahak) dan iduh (meludah).

Di sini juga salah satu pusat seni macapat yang tersisa di Cirebon, lainnya ada di Jemaras. Seni macapat terkadang disebut juga Seni Bujanggan, yaitu seni membaca dan melagukan berbagai bentuk puisi[7] seperti Kinanthi, Kasmaran, Dhandhanggula, dan lain-lain, kesemuanya tercatat dalam naskah-naskah yang merupakan reproduksi atau salinan dari naskah yang lebih tua.

Salah satunya Serat Suluk Bangun Umah (selanjutnya akan ditulis SSBU).  Di sampulnya tertera sebagai berikut:

 

Serat

Suluk Bangun Umah

Mawi Kasekaraken.

Dulyas Juru Tulis Manten

Ing Surakidul

1956.

Serat

Suluk Bangun Umah

Tersusun Dalam Tembang.

Dulyas  Mantan Juru Tulis

Di Surakidul[8]

 

Dari tarikhnya (1956) maka ia termasuk manuskrip termuda dalam jajaran naskah-naskah Cirebon. Sedangkan data tentang Dulyas si penulis justru semula dikenal bukan sebagai penulis atau penyalin naskah kuno, tapi ia lebih dikenal sebagai pelukis kaca[9].

Karya beliau ternyata tidak hanya SSBU, antara lain Syekh Japura (1961), namun secara Filologis SSBU sangat menarik sebab tidak ditemukan rangkapan dari naskah ini, oleh Atja (1986) naskah semacam ini disebut Uniqum[10], serta isi yang terkandung di dalamnya. Hingga saat ini belum ada yang menggarapnya, baru pada tahap transliterasi[11].

Sebenarnya SSBU pernah diulas beberapa waktu yang lampau, namun dari sisi aksaranya saja[12].  Media penulisannya di sisi belakang lembar kertas latihan Pemilu 1955 yang dibagikan oleh DPP PNI.

Untuk teksnya yang beraksara Carakan Cirebon ditulis dengan pulpen berwarna biru dan garis tepi teks berwarna merah dengan jumlah halaman 101. Mengenai kapan rampungnya tak begitu jelas, pada halaman 30 tertera 14 April 1956, kiranya itu adalah tarikh dimana ia jeda sesaat.

Sesuai pendapat Saputra (2008) jika melihat judulnya SSBU termasuk ke dalam genre Sastra Wulang. Di dalam kesusastraan Jawa pada umunya Sastra Wulang dibagi menjadi dua Wulang dan Suluk/wirid. Perbedaannya, wulang bersifat umum dan ajaran etika sosial, sedangkan suluk/wirid  berkaitan dengan agama dan kepercayaan[13].

Dilihat dari isinya SSBU memiliki gejala khas naskah-naskah Cirebon yang menurut Rafan S. Hasyim (2008) bersifat bunga rampai atau bersifat Disversion[14]. Artinya sebuah naskah menyajikan beragam tema, dari mulai tasawuf, hal ihwal mengenai wayang, sejarah, pelintangan (perbintangan), pal dina (peruntungan hari), dan sebagainya. Hal itu senada dengan pernyataan Mahrus el-Mawa (2009) jika manuskrip di Cirebon isinya beragam, hakikat berpadu dengan sari’at, bahkan ada pula bercampur perihal nahwu sorof[15].

Terbukti di dalamnya terdapat SSBU (1-76) yang diselipi lakon Bima Suci[16] (32-76), jenis-jenis di rumah Cirebon (77-79), Kidung Pandawa (80), Negara-negara dalam pewayangan (81-85), Jalannya Wisnu (85-88), Bab Kadewatan (89-92), Petikan Serat Selong (93-97), Hakekat Gamelan (97-99), Cangkriman/badekan[17] (100-101). Sebagian besar berupa puisi tembang macapat. Dari kesemuanya tentulah SSBU yang paling menarik.[]

 

 

 

[1] Sengget adalah nama atau istilah suatu teknik membunuh khas Bedulan. Si pembunuh mengalungkan celurit di leher korban dari arah belakang tepat di tenggorokan dan ditarik hingga urat lehernya putus.
[2] Gulu banyak sebutan untuk celurit berukuran besar di atas 60 cm., bahkan ada pula yang membuat dengan ukuran spesial 1 m. lebih. Senjata ini sempat populer di tahun 1999 ketika perang antar kampung di sana merebak yang baru mereda di awal 2002-an.
[3] Tempat para kesatria, prajurit, pusat kemiliteran. Mungkin fungsinya tak jauh beda dengan Pentagon di Amerika sekarang.
[4] Lihat H.J. De Graaf, PUNCAK KEKUASAAN MATARAM; Politik Ekspansi Sultan Agung, (Jakarta: Grafitipers, 1986), hlm. 149-169.
[5] Manca, semacam konsul atau atase pada masa kerajaan Cirebon. Sebutan ini pun disandang untuk orang yang mendapatkan suaka politik. Sumber lisan seorang manca yang terkenal adalah Ki Anggaraksa, salah satu anggota Sapta Adhyaksa ‘jaksa tujuh’ Kerajaan Cirebon (Kartani, 2004). Naskah-naskah Pangeran Wangsakerta mencatat nama Senopati dari Bagelen, Arya Wiralodra sebagai salah seorang manca. Doddie Yulianto, Sebuah Catatan Untuk HR Sutadji KS; INDRAMAYU BUKAN BAWAHAN CIREBON (?), 2005. Tulisan tidak diterbitkan.
[6] Tesis semacam itu mungkin akan bertentangan dengan tradisi lisan tentang asal-usul Bedulan. Karena menurut riwayat Nyi Baduran pendiri Bedulan, terkisahkan membuat sawah. Satu lagi yang memperkuat, yakni adanya pamali ’tabu’ untuk menyebut merang untuk batang padi, mereka menyebutnya dami, sebab merang mengingatkan salah satu nama leluhur mereka Ki Sumerang.
[7] Lihat selengkapnya dalam Emuch Hermansoemantri, IDENTIFIKASI NASKAH, (Bandung: Universitas Padjadjaran, 1986), hlm. 82.
[8] Surakidul sekarang menjadi Desa Suranenggala Kidul.
[9] Anak keturunannya adalah pelukis kaca, ia mewariskan banyak sket atau pola gambar untuk melukis kaca yang ia buat sejak tahun 1920 hingga akhir 1930-an, dengan kondisi yang masih sempurna.
[10] Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari, Karya Sastra Sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah (Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat,1986), hlm.10.
[11] Kebetulan digarap oleh penulis sendiri. Dikerjakan mulai 2 Agustus 2005 selesai 7 September 2006, sebagai acuan pembakuan sistim penulisan Carakan di Cirebon.
[12] Doddie Yulianto, MENELUSURI PERJALANAN AKSARA CARAKAN DI CIREBON; Melalui Pengalaman Tarnsliterasi. Makalah disajikan pada Kongres Bahasa Cirebon 1, Hotel Prima 31 Juli- 2 Agustus 2007.
[13] Karsono H. Saputra, Filologi Jawa (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008), hlm. 52.
[14] Rafan S. Hasyim. Keterangan ini didapat secara lisan, selepas pemotretan naskah-naskah koleksinya guna dokumentasi Museum Pangeran Cakrabuwana Kabupaten Cirebon pada pertengahan 2008.
[15] Mahrus el-Mawa, kesimpulan dari hasil studi naskah-naskah Koleksi Raden Hasan di Desa Bodesari, awal 2009.
[16] Dalam naskah ini diambil pada inti ceritanya, yakni perjumpaan Bima dengan Dewa Ruci di telenging Samudra (Dasar lautan)
[17] Teka-teki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya