Kontroversi Naskah Wangsakerta

Baca Juga

Gotrasawala atau musyawarah besar pernah berlangsung di Cirebon dengan peserta undangan berasal dari berbagai kerajaan di Nusantara, bahkan Asia. Acara ini disebutkan berlangsung pada 1677 Masehi di Keraton Kasepuhan.

Gotrasawala merupakan prakarsa Sultan Sepuh I Abul Makarim Mohamad Samsudin (Pangeran Martawijaya) dan Sultan Anom I Abul Manakhir Badiridin (Pangeran Kertawijaya), berdasarkan amanat ayahanda mereka Panembahan Adining Kusuma yang lebih kita kenal dengan gelar anumertanya Panembahan Girilaya.

Acara ini diketuai oleh adik beliau berdua yaitu Panembahan Carbon I Abdul Kamil Mohamad Nasarudin, yang disebut dengan Pangeran Wangsakerta. Tujuan kegiatan tersebut adalah membahas sejarah di Nusantara dan mancanegara, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa naskah hasil kegiatan tersebut semisal,  Pustaka Negara Kertabhumi, sargah 1; Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, Sargah 2.

Dari kegiatan Gotrasawala ini menurut yang tertera dalam Sargah Panyangkep (Pelengkap) menghasilkan tak kurang 1.700 buah naskah, berhalaman tidak kurang 340.000 lembar, dikerjakan hingga tahun 1699 Masehi, dengan begitu masa pengerjaannya selama 22 tahun! Naskah-naskah tersebut lazim disebut Naskah Wangsakerta.

Sayangnya, dari 1.700-an naskah yang dihasilkan, tak banyak yang tersisa, kurang dari 50-an naskah yang sekarang tersimpan di Museum Sri Baduga Bandung, itu pun secara ilmu filologi dilihat sisi fisikmya, disangsikan keotentikannya. Sebagaimana hasil riset Dr. Tedi Permadi terhadap kertas yang digunakan sebagai medianya, disimpulkan hasil pabrikan.

Selain dari itu riwayat perihal penemuannya masih sangat misterius. Disebutkan oleh Prof Edi S. Ekadjati dalam bukunya  Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta (Pustaka Jaya:Jakarta, 2005), kompilasi tulisan mengenai naskah Wangsakerta, disebutkan awal penemuannya sekitar medio 70-an oleh Dr. Atja lewat pedagang barang antik dari Cirebon bernama Asikin atau Mohammad Asikin. Dia tidak secara mendetail asal muasal naskah tersebut.

Disebutkan juga oleh Ekadjati, karena berbagai hal misterius menyelimuti naskah Wangsakerta, maka muncul dugaan jika naskah ini hasil konspirasi yang juga melibatkan  beberapa tokoh budayawan lokal Cirebon, yaitu Salana, TD Sudjana, Kartani.

Ketiga orang ini sekarang sudah almarhum. Dua nama terakhir di masa menjelang wafat, sering membagi pengalaman serta pengetahuan mereka kepada saya, termasuk perihal naskah Wangsakerta yang menurut saya sangat menarik. Walaupun harus diakui ini bukan transkripsi wawancara dengan mereka, tapi merupakan memori atas dialog dengan mereka yang masa itu terkadang dianggap sambil lalu tidak terpola, kerap tanpa tujuan namun berulangkali mereka mengungkapkan hal yang sama.

Kartani: naskah ditemukan di tumpukan kertas bekas

Kartani selalu dan selalu paling bersemangat jika diminta memaparkan bagaimana kronologi naskah Wangsakerta diketemukan. Menurutnya yang pertamakali kabar akan temuan tersebut diberitahu oleh Asikin, adalah TD Sudjana dan dia sendiri. Itupun belum diperlihatkan naskahnya.

Barulah setelah pertemuan kedua mereka diajak melihat ke lokasi. Naskah itu ditemukan pada tumpukan kertas kiloan pedagang kertas bekas di jalan Kebon Cai, Kota Cirebon.

Bapak taksih emut sinten namine ingkang sade (Bapak masih ingat siapa nama penjualnya) ?” tanyaku.

“Ya masih, Pak Dirnya.” Jawabnya.

Cuma nama itu yang selalu disebutkan beliau sebagai penjual naskah Wangsakerta. Naskah yang pertamakali ditemukan ialah Pustaka Negara Kertabhumi, sargah 1. Barulah setelah dilihat fisiknya, hasil temuan itu oleh mereka berdua dilaporkan ke Atja yang saat itu masih bertitel Doktorandus, selaku Kepala Museum Negeri Provinsi Jawa Barat (belum bernama Sri Baduga).

Pertemuan dengan Atja, dihadiri oleh Kartani, TD Sudjana, Asikin, dan ditambah Salana, lokasinya di rumah Kartani di desa Mertasinga, sebelah utara Gunung Jati. Sedangkan Pak Dirnya sebagai “pemilik” tidak dihadirkan, ada kemungkinan oleh Asikin sengaja disembunyikan.

Kelima orang, tepatnya keempat orang ahli, karena Asikin seorang Palen atau Makelar benda antik tidak mampu membaca aksara Carakan, kebingungan. Kartani menegaskan mereka tidak langsung dapat membacanya, terutama sekali karena bahasa yang digunakan.

Kula kuh sampe Sembahyang bengi De,  saking angele maca, ambir bisa kewaca, basae bli umume lontar (saya sampai melakukan solat malam De, lantaran sangat susah dibaca, agar bisa terbaca, bahasanya tidak lazim digunakan naskah sejarah).”

Setelah penemuan Pustaka Negara Kertabhumi, sargah 1, disusul sargah 2, 3, 4, hingga sargah 5 atau sargah Panyangkep (pelengkap), mereka mengerjakan bersama. TD Sudjana menurut Kartani hanya terlibat hingga sargah 4. Setelah itu Atja memburu sendiri keberadaan naskah Wangsakerta. Kemungkinan sekali hanya mengajak Asikin selaku makelar).

Ekadjati maupun lainnya kiranya tidak diberikan secara jelas oleh Atja peristiwa yang berulang kali Kartani paparkan pada saya. Mirisnya, peristiwa sepenting itu tanggal, bulan, serta tahunnya, tidak diingat oleh Kartani, akan tetapi nama Dirnya sebagai penjual Naskah Wangsakerta senantiasa disebut.

TD Sudjana: “Kirik! Kita disangka malsu Naskah Wangsakerta.”

Penuturan Kartani perihal sejauh mana keterlibatan TD Sudjana diperkuat oleh pernyataan TD Sudjana sendiri kepada penulis, jika Pustaka Negara Kertabhumi  hanya sampai sargah 4, tidak mengetahui adanya sargah Panyangkep. Sepertinya bukan kebetulan apabila penulis menemukan hasil pengetikkan terjemah dari TD Sudjana hanya sampai Pustaka Negara Kertabhumi, sargah 4. Sedangkan Kartani memiliki ketikkan hasil alihaksara termasuk sargah ke-5.

Kecurigaan banyak ahli sejarah, epigrafi, juga filologi akan keaslian naskah Wangsakerta, disebutkan oleh Ayatrohaedi dalam bukunya, SUNDAKALA; Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Pangeran Wangsakerta” Cirebon, (Pustaka Jaya: Jakarta, 2005) lahir atas dasar alasan bahwa semua yang diuraikan merupakan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang Indonesia pada masa itu.

Terlebih, banyaknya kesamaan antara isi naskah Wangsakerta  dengan berbagai temuan yang baru ada di tahun 50-an hingga 70-an. Maka tidak heran muncul pernyataan jika naskah ini adalah hasil konspirasi orang modern, rekayasa  yang melibatkan banyak orang, termasuk Salana, Kartani dan TD Sudjana.

Bagi TD Sudjana tuduhan sebagai konspirator dirasa teramat menyakitkan, menginjak harga dirinya sebagai Wong Cirebon. Tuduhan tersebut bukan saja dilontarkan oleh ilmuwan lokal tapi juga ilmuwan asing, yaitu Matthew I Cohen seorang antropolog lulusan Yale Univercity, seorang peneliti ahli kebudayaan Cirebon, khususnya wayang dan seni pertunjukan.

Dia mengungkapkan hal tersebut melalui sepucuk surat yang dilayangkan kepada sastrawan Ajip Rosidi. Hal itu semula tidak diketahui. Namun pada suatu waktu Ajip Rosidi menunjukkan surat tersebut kepada TD Sudjana. Berulangkali jika dia menceritakan kejadian tersebut, tidak dapat menutupi kegeramannya.

Bahkan sempat pula mengumpat, “Kirik! Kita disangka malsu Naskah Wangsakerta! (Anjing! Saya dicurigai memalsukan Naskah Wangsakerta!).” Dia mengatakan, tidak sedikit pun berani melakukan penipuan macam tersebut yang baginya itu adalah mempermainkan karya leluhur.

Tanpa diduga saya, beberapa tahun kemudian, dipertemukan dengan mereka berdua (TD Sudjana dan Kartani) dalam penyusunan sebuah karya tulis bernilai ilmiah seputar kebudayaan maritim di Cirebon, merekalah tim pakarnya.

Saya menggantungkan salah satu sumbernya yaitu naskah Wangsakerta. Namun itu harus terlebih dulu membuka misterinya, misteri peristiwa Gotrasawala 1677.  Peristiwa besar semacam itu biasanya di pulau Jawa pada umumnya dicatat dalam kronogram atau Sengkalan.

Semisal pendirian Keraton Ngayogyakarta berupa naga kembar membelitkan ekornya, itu berbunyi Dwi Naga Rasa Tunggal mengandung angka tahun 2861 (1682 C/1760 M). Contoh lainnya pendirian Siti Hinggil Keraton Kasepuhan, ditandai gambar relief banteng di Gapura Candi Bentar yang berbunyi Banteng Tinata Bata Kuta mengandung angka tahun 7551 (1557 C/1635 M).

Dengan demikan muncul dugaan saya sudah semestinya peristiwa Gotrasawala juga dicatatkan, dilekatkan pada sesuatu. Titik terang muncul manakala membaca kolofon  Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara sargah 1 parwa 1, menyebutkan titimangsanya Nawa Gapura Marga Raja yang artinya Sembilan Gerbang Jalan Raja mengandung angka 9951 (1599 C/1677 M), mengingatkan pada sebuah situs Lawang Sanga di sisi sungai Kriyan.

Apakah sebuah keniscayaan apabila gerbang itu digunakan sebagai sengkalan peristiwa Gotrasawala, sekaligus jalur utama peserta kegiatan?  Kecurigaan tersebut diutarakan kepada beliau berdua, mereka dapat menerima itu, bahkan mendorong agar saya berani mengungkapkannya, memasukkan “temuan baru” tersebut dalam buku.

Terlepas benar tidaknya terkaan saya akan korelasi antara titimangsa di naskah dengan situs Lawang Sanga. Penulis justru menemukan fakta lain. Mereka berdua bukanlah anggota tim pemalsu naskah Wangsakerta. Apabila mereka pemalsu naskah seperti yang dituduhkan karib saya, Matthew I Cohen berserta para ahli lainnya, sudah jauh-jauh hari lebih dahulu mengungkapkan hal yang sama perihal hubungan Gotrasawala, naskah Wangsakerta dengan Lawang Sanga.

Anging Gusti Pangeran ingkang Angawikani Dhateng Sarwaning Dumadi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Kiai Abbas Buntet: Mursyid Dua Tarekat

Kiai Abbas adalah ulama, pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, mursyid Tarekat Sattariyah, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik...

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko adalah makanan khas Cirebon berupa nasi yang disajikan lengkap dengan sambal kacang dan lauk sederhana. Bahan yang ditambahkan ke...

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Cirebon itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah...

Teboe Tjirebon Itam yang Legendaris

Pada 1830, Gubernur Hindia Belanda Johannes Graaf van De Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan...

Nggulati Corona

Wa Talka lagi ngopi ning warunge Nok Nengsi. Ndadak ndadak Sinyo Joni anake Menir Caswad, bapa e Welanda, mbok e Karang Jengki Liwat. Kelawan cangkem...

Artikel Lainnya